Artikel

About Item 1

Bersama Remaja Menuju Indonesia Sejahtera

09 Apr 2018

Indonesia merupakan negara yang mempunyai beraneka ragam kebudayaan termasuk didalamnya keanekaragaman pendidikan, hal ini dibuktikan dengan banyaknya universitas yang ada. Salah satu universitas yang berada di Indonesia adalah Universitas Padjadjaran, dimana terdapat pula banyak fakultas yang salah satunya adalah Fakultas Keperawatan. Ya, saya bagian dari Unversitas Padjadjaran Fakultas Keperawatan.

Sebagai calon perawat professional, harus mengutamakan caring dikarenakan salah satu aspek yang menunjukkan citra perawat itu sendiri. Di dalam caring yang diajarkan dari awal masuk perkuliahan meliputi sikap empati,  saling peduli, dan yang kelihatan sepele namun sangat berpengaruh bagi kegiatan sosial adalah 5S yaitu senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.

Di Lingkungan kampus dan asrama saya sudah mengkontribusikan diri saya dalam hal 5S, karena pada dasarnya manusia memerlukan suatu tindakan atau gerakan untuk melakukan sebuah perubahan bukan hanya dari omongan semata. Dari senyum lah semua permasalahan yang ada pada diri kita ini sejenak tak terlihat dan terkadang membawa motivasi kepada orang lain agar selalu memandang permasalahan dari sudut pandang yang lain. Kemudian alangkah manisnya jika senyuman itu ditambah dengan salam, hal ini merupakan suatu kehormatan bagi orang yang berpapasan karena merasa aktualisasi diri nya dikedepankan. Lalu setelahnya sapa. Sapa merupakan keberlanjutan dari salam yang lebih menunjukkan keakraban dan akan dikenal. Dan yang terakhir adalah sopan dan santun. Sudah sepantasnya kita sebagai remaja menjunjung tinggi sopan dan santun, karena apalah artinya intelektual jika sopan santunnya rendah. Mungkin bagi orang awam sikap 5S ini dianggap sebelah mata, saking sepelenya kebanyakan orang memandang lemah sikap yang bagus ini. Saya secara tegas mempraktikkan dan memperjuangkan langsung sikap 5S ini agar budaya Indonesia yang terkenal akan sopan dan santunnya tidak hilang dan tetap melekat pada citra remajanya.

Jika ingin melihat masa depan suatu bangsa maka bisa tercerminlah dari kondisi situasi remajanya. Remaja yang ada saat ini adalah cikal bakal keberhasilan atau bahkan keterpurukan bagi suatu bangsa. Masa remaja mempunyai peran yang sangat tajam, entah itu tajam untuk kebaikan ataupun tajam untuk keburukan. Jika ingin membenahi bangsa Indonesia, seharus “dibenahi” terlebih dahulu remaja nya. Di era globalisasi saat ini sosok remaja tak jarang lebih banyak berinteraksi dengan teknologi, tak jarang mereka selalu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, disinilah sisi terburuk suatu teknologi. Seakan “slogan sopan santun, ramah tamah” bagi bangsa Indonesia hanya cerita belaka. Bagaimana bisa membangun sebuah negara jika yang berdekatan saja tak saling sapa.  Bagaimana mungkin dapat terjadi kekompakan antar negara jika yang berdekatan saja hanya diam bagai tak kenal selamanya.

Indonesia pada tahun 2020-2030 akan diprediksi mengalami Bonus Demokrasi. Dimana jumlah usia produktif (15-64 tahun) akan mencapai 70 persen sedangkan jumlah usia non produktif (dibawah 15-diatas 64tahun) hanya mencapai 30 persen. Kabar bonus demokrasi sesungguhnya membawa berita gembira bagi remaja yang ada saat ini karena bisa memperoleh manfaat besar. Haruslah dimulai dari saat ini untuk menyiapkan masa produktif pada tahun 2020-2030.

Tetapi jika dilihat kebelakang lagi, begitu miris keadaan remaja sekarang ini. Sudah banyak melupakan bagaimana tatakrama akibat kemajuan teknologi. Ada sebuah rasa dalam benak saya untuk merubah paradigma remaja yang selalu bergantung pada gadget, dengan cara seminggu sekali harus terbebas dari peranan gadget. Khususnya pada hari libur, dimana waktu untuk bercengkrama dengan keluarga, sanak saudara dan teman yang berada dekat dengan kita. Jika sudah ada rasa kebersamaan dan rasa tatakrama diantara remaja satu dengan yang lainnya pasti akan menghasilkan suatu rasa dimana kekompakan itu terjaga. Sehingga dalam kekompakan seluruh remaja, akan terkumpul lah ide-ide untuk membangun sebuah bangsa. Jangan heran dengan hanya satu tindakan kedekatan bisa menghasilkan suatu keberhasilan yang sangat besar. Mungkin memang ini terlihat sangat amat sepele, namun terdapat dampak yang mengumpat dibalik itu semua.

Kenakalan remaja pada saat ini sudah terpampang begitu jelas. Sex bebas, narkoba dan kenakalan lainnya merusak remaja masa depan Indonesia. Jika remaja hanya mengedepankan emosinya maka tak ada lagi daya yang dapat mendorongkan dirinya.

Untuk itu harus banyak diadakan seminar-seminar tentang “asiknya menjadi remaja yang produktif”  lalu tentang pengetahuan sex bebas dan narkoba demi terhindarnya kenakalan remaja yang berlanjut. Karena pembangunan karakter pada generasi emas merupakan investasi yang sangat penting bagi remaja.

Jangan banyak menuntut demi keberhasilan sebuah negara, apalagi menuntut kepada para eksekutif, yudikatif dan legislatif yang ada di Indonesia, jika kegagalan yang dihadapi Indonesia masa ini bukanlah kesalahan para remajanya, tetapi jika kegagalan itu yang kita semua rasakan dimasa yang akan datang, barulah mutlak itu kesalahan kita sebagai remaja.

Menjadi remaja yang produktif bukanlah suatu hal yang susah, tetapi hal itupun juga tidak bisa dibilang mudah. Untuk membuka pikiran remaja, maka dibutuhkan sebuah wadah agar aspirasi remaja dapat tersalurkan secara saksama. Sebagai contoh harus ada perencanaan generasi yang melibatkan remaja itu sendiri agar kegiatan yang tidak mendatangkan manfaat bisa menjadi kegiatan yang lebih bermanfaat. Hal ini pun akan mendorong Indonesia selangkah lebih maju. Karena persiapan remaja yang lebih matang untuk menghadapi permasalahan dilingkungan sekitar.

Peran keluarga juga merupakan hal yang paling penting dalam membina remaja agar terus berkembang menjadi remaja yang produktif, untuk itu juga harus diperlibatkan dalam hal seminar dan aksi-aksi lainnya. Sebenarnya terlihat jelas disini bahwa pihak satu dengan pihak yang lainnya yang saling keterkaitan yang tak dapat dipisahkan. Jika hubungan keterkaitan ini yang kokoh maka dapat dipastikan permasalahan remaja dapat segara terselesaikan.

Jika ingin memberantas hal besar tentu harus memberantas hal kecil terlebih dahulu. Perbanyak seminar dan aksi-aksi kekeluargaan membantu mengurangi resiko kenakalan remaja yang ada. Sering diadakannya pelatihan skill juga merupakan kunci keberhasilan remaja. Lupakan sejenak gadget yang sering dimanja oleh remaja karena secara tidak sadar, gadget dapat memberikan dampak yang terburuk. Komunikasi yang seharusnya lancar didalam suatu komunitas yang nyata akan terhambat dan bahkan berhenti hanya demi berkomunikasi dengan orang yang keberadaannya lebih jauh. Kalau sudah seperti ini tidak ada lagi cita rasa Indonesia sebagai negara yang ramah akan sapaannya. Dan permasalahan inilah yang harusnya kita selesaikan secara bersama-sama demi menuju satu tujuan yang sejahtera.

Ada juga permasalahan yang terdapat kaitan dengan remaja itu sendiri yang menjadi tujuan utama suatu abngsa asean yaitu dalam development goals (SDG’s) nomor keempat adalah pendidikan. Pendidikan merupakan fondasi dasar untuk membangun negara guna memberantas permasalahan yang ada. Begitu besar peran pendidikan dalam memecahkan masalah karena pada dasarnya ilmu pengetahuan memegang semua aspek untuk “membunuh” ketidaktahuan manusia. Harus bisa dipastikan bahwa remaja mempunyai pendidikan yang berkualitas agar dapat membantu proses pembangunan karakter.

Tetapi jusru hal inilah yang menjadi penghambat bagi anak atau remaja pedesaan karena keterbatasan pendidikan yang ada. Dimana pendidikan di Indonesia tidak merata keseluruhnya. Pendidikan tidak melihat pelosok yang jauh dipedalaman. Inilah menjadi tantangan terbesar untuk pemerintah dan para remaja.

Jika dipelosok susah mendapatkan pendidikan yang berkualitas maka permasalahan yang ada di ibu kota adalah sumber daya yang tidak mampu mengarahkan pada sistem pendidikan yang berkualitas. Contohnya seperti fasilitas yang ada tidak memadai, buku bacaan di perpustakaan tidak menunjang kemajuan pendidikan, dan sumber daya utama guru kadang disepelekan. Banyak persoalan yang datang jika pendidikan tidak ditegakkan dari masa sekarang. Sebagai mahasiswa dan remaja yang mendukung keberhasilan suatu negara haruslah bersama-sama menjalin komunikasi yang nyata untuk kesejahteraan yang bisa langsung dirasakan efeknya. 

Untuk para remaja, dekatkan dan libatkan segalanya dengan tuhan yang maha esa. Karena tanpa campur tangannya mungkin Indonesia tidak akan merdeka, tidak lupa dekatkan diri juga kepada orangtua karena bagaimanapun keadaannya hanya orang tua lah yang hakikatnya mau menerima kita apa adanya, dan yang tidak kalah pentingnya adalah jalinkan lah komunikasi atau silahturahmi antar teman yang ada disekeliling kita, buatlah bersama aksi-aksi untuk persatuan remaja. Semua pilihan berada di tangan remaja, kita harus belajar dari pengalaman yang ada, jangan mau terperangkap pada lubang yang sama, remaja yang sebenarnya adalah remaja yang tidak memikirkan dirinya sendiri, karena remaja merupakan cikal bakal keberhasilan suatu negara. Ayo remaja, mari bersama kita memberantas “efek kebodohan teknologi” yang ada di negara kita.

 

Powered by :

Karirpad

Terdaftar dan diawasi oleh :

Karirpad