Artikel

About Item 1

Aku dan Kontribusiku

09 Apr 2018

Apapun yang Anda lakukan dengan baik memberikan kontribusi untuk kebahagiaan.”
– Bertrand Russel, seorang matematikawan peraih nobel sastra 1950.

Perkenalkan, Saya Owen Orlando Sumakul. Mahasiswa Tingkat 1 atau Mahasiswa Tahap Persiapan Bersama dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung.

Saya lahir 17 Februari 2000. Saat ini, saat saya berumur 18 tahun. Pada umur ini, saya belajar banyak mengenai kontribusi. Kontribusi bagi masyarakat adalah suatu hal yang dapat dilakukan oleh semua orang, tanpa memandang asal, pangkat dan prestasi. Kontribusi dapat dilakukan bagi masyarakat baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Sekecil apapun kontribusi yang diberikan, percaya atau tidak, kontribusi tersebut telah memberikan pengaruh bagi masyarakat sekitar.

Sebagai remaja, Kontribusi yang telah saya lakukan bagi masyarakat memang belum skala yang besar. Saya pernah mengeluarkan pemikiran saya dalam sebuah lomba pidato bahasa inggris tingkat kota. Saat itu, saya berbicara mengenai bagaimana penggunaan tisu dapat merusak lingkungan. Tisu kerap kali digunakan secara berlebihan, yang sebenarnya tanpa disadari, penggunaaan tisu secara berlebihan tersebut sama dengan membuang pohon secara percuma. Alangkah baiknya, jika penggunaan tisu digantikan dengan sarung tangan. Saat seorang remaja mengubah dirinya dengan mengganti tisu dengan sarung tangan, dan teman-temannya mengikutinya, bayangkan berapa banyak pohon yang bisa diselamatkan. Walaupun sederhana, pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan sederhana seorang remaja seperti ini dapat mempengaruhi lingkungan sekitar.

Kontribusi lain saya sebagai remaja bagi lingkungan adalah Bakti Sosial. Mungkin banyak orang telah melakukan bakti sosial. Namun, apakah setiap orang mengerti esensi dari bakti sosial? Apakah setiap orang melakukan hal tersebut dengan sepenuh hati? Pertama kali saya melakukan bakti sosial adalah saat saya duduk dibangku sekolah kelas 3 SD. Saat itu, saya berkunjung ke sebuah Panti Asuhan di daerah Jambi dalam rangka Bakti Sosial Natal Sekolah. Saya bersama teman-teman memberikan beberapa makanan maupun buku kepada mereka yang membutuhkan. Saat itulah pertama kali saya menghargai betapa berharganya makanan dan pendidikan bagi mereka. Saya tersentuh melihat tawa riang mereka saat mendapatkan buku maupun alat tulis lainnya yang mendukung persekolahan mereka. Sampai saat ini, ketika saya melihat orang yang sedang meminta di pinggir jalan, sebisa mungkin saya memberi sesuatu untuk mereka. Walaupun meminta-minta adalah suatu kesalahan, tapi apa salahnya berbagi rezeki dan senyuman?

Saat ini, saya sedang berada di posisi mahasiswa. Suatu posisi dimana gerak gerik saya bersama teman teman diperhatikan oleh masyarakat. Menjadi mahasiswa adalah impian bagi banyak orang. Mahasiswa telah difasilitasi bagi universitas untuk berkembang dan bergerak seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya. Ketika masyarakat mengharapkan sesuatu pada mahasiswa, maka mahasiswa harus dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Saya berdomisili di Bandung, tepatnya di Asrama Sangkuriang ITB. Asrama ini terletak di ujung suatu gang. Di tempat ini, banyak sekali masyarakat sekitar dengan karakter dan perilaku berbeda-beda. Saya banyak belajar bagaimana cara bersosialisasi dengan lingkungan baru dan orang-orang baru. Banyak dari mereka yang berharap akan pergerakan mahasiswa yang akan mengubah hidup mereka menjadi lebih baik.

Pada suatu kesempatan, saya pernah dijemput oleh taksi online. Bapak tersebut bertanya mengenai pekerjaan saya. Saat saya menjawab saya adalah mahasiswa, dia berkata, “Wah, calon pemimpin saya nih,”. Dari tanggapan bapak tersebut, saya berpikir bagaimana masyarakat memandang seorang mahasiswa. Bagi masyarakat, mahasiswa adalah seorang role model, dimana apa yang mahasiswa lakukan dapat mempengaruhi masyarakat bahkan Bangsa Indonesia.

Beberapa tahun ke depan, teknologi akan berkembang dengan sangat pesat. Melihat keadaan itu, inovasi akan menjadi hal yang sangat dibutuhkan di masa depan. Semakin inovatif suatu hal, maka semakin baik pula hal tersebut beradaptasi di masa depan.

Inovasi pada bidang teknologi dapat dimanfaatkan agar kita dapat mengolah Sumber Daya Alam dengan baik. Inovasi yang ingin saya lakukan tidaklah jauh dari orientasi bidang studi yang sedang saya pelajari, pertambangan dan perminyakan. Fokus saya dalam pengembangan migas beberapa tahun ke depan adalah inovasi di bidang metalurgi. Perkembangan teknologi migas harus ditunjang oleh perkembangan nanoteknologi. Nanoteknologi adalah teknologi yang memanipulasi bakteri dalam skala atomik dan skala molekular. Penerapan nanoteknologi dalam bidang metalurgi adalah memperolah bijih logam murni secara bersih, efisien dan tidak mencemari lingkungan. Diharapkan di masa depan Mikroorganisme berupa bakteri bisa membantu dalam merubah bijih mineral menjadi unsur unsur yang terpisah. Selain itu, bakteri dapat melarutkan material yang dibutuhkan sehingga mengurangi mineral penggangu (gauge mineral) yang kurang dibutuhkan. Mikroorganisme juga dapat digunakan untuk mengangkut mineral murni dari bijih yang kompleks. Dengan perkembangan nanoteknologi ini, perkembangan dari sektor migas akan serta meningkat. Salah satu dampaknya adalah terciptanya Bio Mining atau Penambangan yang lebih ramah lingkungan. Selain dapat meningkatkan teknologi dan perekonomian negara, penerapan nano teknologi secara tidak langsung juga dapat mengurangi kerusakan lingkungan akibat penambangan. Namun, saat ini, Penerapan maupun perkembangan nanoteknologi di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain.

Menurut Study PriceWaterhouseCoopers Consulting, Indonesia akan menduduki peringkat ke-5 sebagai negara dengan perekonomian terkuat di dunia, di bawah China, Amerika Serikat, India dan Jepang. Hal tersebut diragukan oleh banyak kalangan masyarakat. Menurut Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Indonesia akan mencapai masa keemasannya pada tahun 2045. Pada tahun 2045, Indonesia memiliki kondisi teknologi dan ekonomi yang sangat kuat di dunia. Indonesia diprediksi dapat mencapai 3 besar negara dengan perekonomian terkuat. Hal tersebut juga diragukan oleh banyak kalangan masyarakat. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa Indonesia akan hancur pada tahun 2030. Terlepas dari kondisi politik, keamanan dan ekonomi, teknologi juga merupakan salah satu penunjang berdirinya suatu negara. Dengan perkembangan teknologi, khususnya jika nanoteknologi dapat digunakan dalam pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia yang kaya secara efektif dan efisien, maka dalam beberapa tahun ke depan, saya yakin bahwa Indonesia akan memiliki kondisi perekonomian yang sangat kuat.

Suatu inovasi akan tercapai jika suatu individu memiliki ide dan berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkannya. Untuk hal itu, saya akan melakukan beberapa cara agar saya dapat melakukan inovasi dan inovasi tersebut dapat digunakan untuk memberikan kontribusi baik bagi masyarakat maupun Indonesia.

Pertama, kekonsistenan dan komitmen memegang peran penting dalam mempertahankan tekad saya. Dengan tetap konsisten dan berkomitmen, maka tekad saya akan tetap ada dalam diri saya. Tekad itu akan mendorong saya untuk terus berusaha sesulit apapun kondisinya. Kedua, saya harus meningkatkan softskill yang dapat berguna di masa depan. Kreativitas, leadership, manajemen waktu yang baik dan pola pikir yang unik dapat membantu saya dalam mengembangkan diri saya, sehingga saya dapat melakukan kontribusi di masa depan.  Ketiga, Out of Comfort Zone. Saya harus ‘mengeluarkan’ diri saya dari hal buruk yang membuat saya nyaman selama ini. Contohnya, terlalu menikmati bermain game  maupun terlalu menikmati me-time, dapat menjadi bumerang bagi saya di suatu hari nanti. Keempat, respect. Dengan menghargai masukan dan kritikan dari orang sekitar, tanpa disadari kritikan itu akan membangun saya menjadi individu yang lebih baik. Kelima, impactful. Percuma jika saya memiliki softskill yang baik namun hal tersebut hanya digunakan untuk menyenangkan dan memperkaya diri saya sendiri. Kecerdasan yang baik adalah kecerdasan yang berdampak bagi sekitar. Dengan hal-hal yang ingin saya kembangkan, saya harap saya dapat berkontribusi dengan baik bagi masyarakat dan Indonesia.

Salah satu tokoh terpelajar dalam sejarah yang terkenal akan kontribusi pada negaranya adalah Bertrand Russel. Bertrand Russel adalah seorang filsuf dan ahli matematika. Bertrand sangat banyak menulis buku maupun brosur tentang masalah-masalah seperti, filsafat, moral, pendidikan, agama dan politik. Apakah hidupnya dilalui tanpa hambatan? Jelas Tidak. Bertrand Russel kehilangan orang tuanya saat berumur 4 tahun, dan dia diasuh oleh neneknya. Selain itu, karena pemikiran antiperangnya, Bertrand sempat dihukum dan dipenjara. Namun, tekad yang kuat tetap ada pada dirinya. Bertrand bersama Einstein, berusaha untuk menghimbau perbatasan senjata nuklir. Hal itu dilakukan agar nuklir tidak bekembang menjadi senjata yang dapat menaklukan dunia. Bertrand juga mendapatkan hadiah nobel sastra pada tahun  1950 akibat kontribusinya pada bidang matematika dan sastra.

Bertrand Russel merupakan contoh bagi saya. Contoh yang membuat saya harus berusaha mempertahankan tekad saya untuk berkontribusi dalam kondisi sesulit apapun. Dengan mengerahkan semua yang saya punya, kontribusi bagi negara bukanlah hal yang tidak mungkin.

Kontribusi bukanlah hal yang tidak mungkin bagi setiap orang. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda. Potensi tersebut dapat digunakan untuk memberikan kontribusi bagi siapa saja. Kontribusi dapat dimulai dari hal kecil seperti memberikan senyuman pada tunawisma di pinggir jalan. Kontribusi dimulai dari tekad didalam diri kita, mengembangkan diri kita, dan berdampak bagi masyarakat dan Indonesia.

Orang optimistis dan pesimistis sama-sama memberi kontribusi pada masyarakat. Yang optimistis menciptakan pesawat terbang, yang pesimistis membuat parasut.” – G.B. Stern.

Apakah kita ingin membuat parasut? Atau kita ingin membuat pesawat terbang?

Powered by :

Karirpad

Terdaftar dan diawasi oleh :

Karirpad